Penulis: Marlina
Siang menjelang sore, kala itu langit mendung dan rintik hujan mulai turun. Perlahan, hujan semakin deras, sementara kami—para warga binaan—masih berada di dalam kamar masing-masing. Udara dingin merayap, menyelimuti tubuh kami.
Tiba-tiba, seorang Ibu pegawai datang dan membuka kunci setiap kamar. Namun, pintu belum dibuka sepenuhnya sehingga kami belum bisa keluar. Rasa tidak sabar pun mulai menyeruak di dada. Tidak lama kemudian, seorang tamping datang dan membukakan pintu kamar satu per satu.
Begitu pintu terbuka, kami keluar berdesakan, berebut seakan tidak mampu menahan diri. Dengan membawa gayung, kami berlari menuju halaman untuk menadahkan air hujan. Begitu berharganya air hujan di mata kami, hingga setiap tetesnya terasa layak untuk dikumpulkan dan disyukuri.