Penulis: Ersya Dwi Apriani
Bangunan kotak dengan cat abu-abu yang berdiri kokoh di pusat Kota Palembang. Sebuah bangunan yang sepertinya siapapun enggan untuk sekadar menoleh melihatnya, termasuk aku yang tidak pernah tergerak untuk melihat ketika melewatinya. Tidak pernah aku bayangkan, bangunan itu menjelma menjadi ‘kontrakan’ tempatku bermalam hampir satu tahun ini. Bangunan itu menjadi saksi bisu, betapa aku melewati malam-malam yang panjang dan sunyi dengan tangis perih dalam hati.
Dengan tergugu, aku lepaskan duniaku yang penuh cinta. Aku tanggalkan seragamku, Aku sisihkan sepatu dengan hak tujuh sentimeter yang senantiasa menemani jejak langkahku. Kejadian ini merenggut setengah jiwa, mendobrak dinding kenyamanan, mengoyakkan angan, hingga menumpuk rindu setinggi gunung pada para malaikat kecilku. Air mataku dikuras habis, tanpa sisa, bagai kemarau panjang. Hanya amarah yang bercokol dalam hati.
Aku marah pada keadaan, Aku marah pada ketidakadilan, Aku tidak terima dengan segala kezaliman, dan demi Tuhan, Aku murka dengan sedikitpun kuasa yang tidak aku punya. Kemana harus Aku cari keadilan? Kemana aku harus menghadap dan menumpahkan segala kepedihan? Lalu, Allah SWT, menjawab melalui azan, “Hayya Ala Shalah”, jawaban yang seolah memanggilku untuk pulang, jawaban yang memantapkan hati bahwa saatnya kita kembali pada-Nya. Menyadarkanku, bahwa Allah SWT, selalu bersama kita, bahwa kasih sayang-Nya begitu lembut, sampai terkadang kita tidak menyadarinya.